Ternyata dalam 100 hari, saya, beserta keluarga Sukarman tetap berduka. Diawali dengan kehilangan Yu Mien ku.. 40 hari kemudian dilanjutkan dengan kehilangan Eyang Niniek, dalam hal ini Papa-lah yang paling berduka, karena beliau adalah bulik pengasuh bagi Papa.
Selamat jalan Eyang Niniek..
Ini belum berhenti karena tidak sampai 100 hari kemudian kami harus kehilangan Pakde Henk kami, dr. Herman Sukarman, SpOT.. dibalik sosok Pakde yang jenaka, sosok Pakde pencinta makanan, sosok Pakde pencinta sejarah beserta barang-barang antiknya ternyata beliau juga sosok Pakde yang membanggakan, paling tidak itu yang saya rasakan ketika obituary-nya dibacakan menjelang keberangkatan dari Solo menuju pemakamannya di Jakarta. Salah satu dokter spesialis ortopedi pertama di Indonesia, yang bekerja keras dengan rekan-rekannya mengayomi the next dokter ortopedi di Indonesia.

Namun sayang perjalanannya harus berakhir.. pada tanggal 26 Mei 2006, sehari sebelum tragedi gempa Jogja-Jateng, beliau menyusul Yu Mien, kakaknya tercinta.. sahabatnya tercinta.. teman bermain tercinta bersama Jolothos, kuda peliharaan mereka sewaktu kecil..
Selamat jalan Pakde.. insya Allah, Australia ku gapai.. seperti harapan kita dulu..
---
Ternyata 2006 tetap kelabu, serentetan duka karena bencana kian terjadi..