Akhirnya back pack saya pun saya gunakan! Back pack yang saya beli tahun lalu di Vancouver dengan harapan akan menemani segala perjalanan saya menjelajahi negeri..
Sebenernya nggak pertama kalinya jugak sih back pack itu saya gunakan, bermalam di tengah hutan Kutai di Kalimantan dan ke beberapa kota di Jawa pun back pack ini telah menemani..
Tapi perjalanan-perjalanan tersebut bukanlah perjalanan yang saya inginkan.. perjalanan yang saya idamkan adalah perjalanan ke suatu tempat yang belum pernah saya jelajahi dan saya akan turut berpetualangan didalamnya.. dan inilah saatnya!
Kemana? Cukup Bali dan Lombok sebagai permulaan.. Rencana pun mulai saya susun.. Tidak seperti perjalanan-perjalanan saya sebelumya ke Bali yang sangat instan, saya memilih suatu perjalanan yang memungkinkan saya untuk menuliskan kembali serta membuat versi milik saya sendiri akan
Lonely Planet yang selalu saya buka untuk mempelajari suatu daerah di negara yang akan saya kunjungi..
---
Perjalanan ini merupakan perjalanan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Kecuali harus sampai Lombok tanggal 4 Maret karena ada resepsi pernikahan tanggal 6 Maret. Hal pertama adalah mencari tiket semurah mungkin.. pilihannya tentu saja travel, bis dan kereta api mengingat harga tiket pesawat Surabaya – Denpasar adalah IDR 210.000.
Setelah hunting informasi melalui Bli Gede dan Bli Budhi, teman-teman saya yang berasal dari Bali, alternatif yang paling reasonable adalah kereta api.. dengan harga tiket IDR 73.000 untuk kelas eksekutif dan IDR 58.000 untuk kelas bisnis, alternatif ini lebih murah dibanding tiket travel dan bis seharga IDR 90.000.
Hunting selanjutnya adalah penginapan dan tempat hang out dan Miar sebagai narasumbernya. Menurutnya gang Poppies tetap menjanjikan harga termurah! Untuk tempat hang out, Fluid dan M Bar Go sedang merajai Legian dan most wanted venue-nya teteep.. Kama Sutra!
---

Ketika teman-teman seperjuangan saya datang di Sidoarjo, perjalanan pun dimulai.. dari alternatif waktu keberangkatan 09.30 WIB atau 23.15 WIB kami memilih yang kedua.
Perjalanan tepat waktu.. bantal dan selimut dengan tariff sewa IDR 4.000 menjadi teman terbaik! Pukul 05.00 WIB kereta sampai di stasiun Banyuwangi, kemudian perjalanan pun bersambung menggunakan bis.
Melihat situasi bis, saya sarankan jangan meninggalkan barang di bis ketika berada di ferry, jadi bersantailah di deck dengan barang bawaan anda.. nikmati view!
Dan ketika kembali ke bis, dan ada seseorang menempati seat kita, bicara saja kalau itu seat kita..

Perjalanan bis berakhir di terminal Ubung, Denpasar. Untuk melanjutkan perjalanan kita bisa memilih menggunakan colt atau taksi.. Menuju Kuta menggunakan colt, kita harus menggunakan colt jurusan Tegal yang kemudian dilanjutkan dengan jurusan Kuta. Tarif masing-masing jurusan adalah IDR 2.000 sehingga Denpasar – Kuta hanya sebesar IDR 4000. Alternatif lain adalah menggunakan taksi yang kondisinya cukup aman. Mayoritas taksi, kecuali Bali Taksi, akan menawarkan tarif borongan yang bisa di tawar.. Pengemudi taksi kami menawarkan harga IDR 50.000 untuk mengangkut kami ber-5 menuju Kuta. Karena belum mengetahui harga, kami memilih menggunakan argometer.. ternyata sampai pantai Kuta, argo menunjukkan IDR 38.000 ditambah IDR 5000 sebagai tambahan charge yang entah merupakan peraturan siapa.. karenanya saya sarankan selalu gunakan Bali Taksi dari Blue Bird Group!
Kami turun di Mc Donald pertigaan Poppies Lane 1 dengan jalan pantai Kuta.

Memanggul backpack, kami mulai menjusuri jalan berharap mendapatkan hotel terdekat dengan pantai namun berharga murah mengingat range harga kamar standar dengan sea view berkisar IDR 300.000 (Hotel Maharani) sampai dengan IDR 1.200.000 (Hard Rock Hotel). Dua hotel pertama di Poppies Lane 1 bertarif sama.. mahal! Ketika kami melihat sebuah gang kecil pertama di sebelah kiri dengan banyak plang hotel, kami pun mencoba menyusuri dengan satu harapan, dapet hotel terdekat dengan harga termurah! Akhirnya, kamar seharga IRD 50.000 semalam pun kami dapatkan! Tepatnya di Rita’s House Hotel yang berada di Gang Sorga.


Perut keroncongan nih, cari makan yuk! Kami pun berjalan di sekitar hotel, ternyata banyak restoran yang cukup fancy.. mampu membuat bingung untuk dipilih! Jenis makanan beragam dari Indonesian sampai Western.. harga pun berkisar IDR 12.000 hingga IDR 50.000. Ada satu restoran terpilih.. typical arsitektur resort bali modern.. kolom penyangga beton menyokong atap ilalang dengan kuda-kuda kayu ekspos.. dilengkapi interior kamar mandi yang keren, dan taman yang memukau.. kami betah makan di sini.. ditambah tv plasma dengan film-film terbaru? Nice!
Satu pandangan.. makanan termurah di Kuta? Paket attack dari Kentucky Fried Chicken!!!
---

Saatnya surfing.. Papan surfing kami sewa di Poppies lane 1 dengan harga IDR 30.000 sehari dan boogie board seharga IDR 15.000 sehari.. sangat murah dibanding ongkos sewa papan di pantai seharga IDR 30.000 PER JAM !
Malam pertama kami habiskan menikmati jalan Legian melihat monumen Bali Bomb dan tentunya… M Bar Go dan Fuel! Tapi apa daya, karena memang saat Low Season jadi clubs tak berpenghuni! Kami menemukan tempat lain yang fancy.. maccaroni! Masuk yuk.. kayaknya keren.. tapi sekali lagi.. MAHAALLL.. makanan dan minuman berkisar IDR 50.000 sampai IDR 100.000 terasa super doper mahal saat itu.. ya maklum, kita berusaha spend money sesedikit mungkin karena perjalanan ke lombok sedang menanti.. nggak lucu aja kalo seandainya nggak jadi ke lombok gara-gara kehabisan duit.. hehe..
---
Hari berikutnya kami habiskan dengan bermain seharian di pantai.. tentu saja surfing! Ada rencana berkeliling bali.. tapi karena terlambat menyewa mobil dan kami tidak mendapatkan potongan harga sewa.. so, yuk dadah bubbye!! IDR 100.000 untuk mobil Katana selama 12 jam.
Dan malamnya, tentu saja saatnya clubbing!! Secara Friday night gitu lowh.. trauma sama M Bar Go yang sepi, kami jadi lebih selektif.. berbekal tabloid entertainment The Beat yang saya dapat di Hard Rock Hotel, pilihan pun jatuh ke kawasan Dhayana Pura, Seminyak.. tons of Bars, Clubs, n Restaurants berjejer di jalan itu.. Tarif taksi dari Kuta pun hanya IDR 10.000.
Ternyata tidak di M Bar Go tidak di Spy Bar dan Liquid.. sepi.. denger-denger itu semua gara-gara peraturan adat baru yang mengharuskan tempat keriaan tutup jam 02.00 WITA. Pliss deh.. hari masih pagi gitu lowh.. bete sama keadaan, jadinya tetep kita cabut ke Kama Sutra!
---
Waktunya pindah ke Lombok!! Untuk mencapai Padang Bai, pelabuhan Ferry penyeberangan Selat Lombok dari Kuta kita harus melewati rute transit Kuta – Tegal – Kreneng – Batu Bulan – Padang Bai.. bingung kan buat orang yang belum pernah pergi ke sana.. Cari alternatif lain deh.. berapa sih ongkos taksi ke Padang bai dari Kuta? Sekitar IDR 135.000 ! berarti dengan kondisi kami, tarif per orang adalah IDR 25.000.. sama dengan tarif bis!
Ternyata Padang Bai nggak sedeket yang di perkirakan.. satu setengah jam perjalanan! Ditambah ganasnya preman dan calo di pelabuhan.. Karena loket tiket belum dibuka dan ketidak tahuan kami akhirnya kami jatuh ke tangan calo! Tapi harganya sama.. IDR 15.000 tanpa retribusi tambahan.. jadi nggak rugi-rugi amat sih..

Ferry pun datang pukul 13.30 WITA.. rupanya jadwal keberangkatan Ferry ada setiap satu setengah jam.. Ferry-nya looks nice.. cuman panas! Akhirnya roof deck jadi pilihan kami buat duduk.. view pantai sekitar Padang Bai jadi pandangan utama.. kenapa?
Rupanya pantai-pantai pasir putih nan perawan itu menjadi tempat ideal buat nudity! Abisnya gimana? Udah nggak ada orang, bagus banget lagi!



4 jam dalam Ferry dengan ombak yang naudzubillah bisa bikin kapok!! Tapi bisa diatasi dengan antimo.. jadi kita tidur sepanjang perjalanan! Hehehe..
Tak lama Ferry pun merapat di pelabuhan Lembar.. Romy sudah menunggu dengan Jong temannya yang bisa diandelin jadi tour guide.. karena kelaperan, Mataram jadi tujuan utama.. apalagi kalo bukan nyari ayam taliwang sama plecing kangkung!! Duh.. lapeeerrr… eh, ternyata makanannya nggak se-pedes makanan Lombok yang ada di Surabaya lho..
Setelah mampir ke rumah Romy untuk kenalan sama orang tuanya plus, tentunya, istrinya.. kita langsung bergerak ke Senggigi.. sengaja cari hotelnya di daerah Senggigi biar waktu nggak habis di perjalanan.
Hotel Ray sungguh pilihan yang tepat.. IDR 60.000 buat kamar ber-AC, tepat di depan path ke pantai, dan terletak disamping Marina, bar paling favorit di Sengigi!
Dari Mataram ke Senggigi cuman makan waktu setengah jam.. Kalo naik angkutan umum pun cukup mudah.. Cari jurusan ke Ampenan, turun di Kebon Ruwek arah ke Senggigi, lanjut naik angkot yang ke Senggigi.. IDR 2.000 each trip! Sedangkan kalo pake taksi, argometer nunjukin angka IDR 20.000.


Pantai Senggigi kayaknya merupakan pantai everything you can do! Surfing bisa, snorkeling oke, apalagi foto-fotoan! Believe in me, tempat ini surga bagi para banci foto!! Hanya saja sewa papan surfing cukup mahal disini.. IDR 50.000 dan ombaknya nggak menentu bikin surfers bete nungguin ombak..
Konon tetap Gili Trawangan, Gili Manu dan Gili Air are the best!!
Ternyata 3 hari di Lombok sangat-sangat tidak cukup.. hari terakhir kami habiskan keliling tempat handicraft, madu, telur asin dan mutiara..
dan malamnya saatnya resepsi.. pakaian khas Lombok bikin keren!!!
Lho katanya petualang sejati? Kok naik pesawat?
Duh.. penting ya dibahas? Pegel tauu kalo harus naik Ferry-Bis-Kereta lagii!!!