---
Seminggu sebelum keberangkatan dinas saya yang paling yahud ini membawa kesibukan yang tak terkira..
(duh, bahasanya!! Ih chappey deeeyy kata ABG sekarang) Apa sebab? Ini dikarenakan perusahaan tempat saya bekerja hanya mengirimkan arsitek baru lulus dengan pengalaman segelintir
(yaitu saya!) dibandingkan perusahaan tempat saya bekerja di negara lain yang pernah mengirimkan arsitek professional untuk melakukan standard data collect seperti yang akan saya lakukan.
Itu berarti kerja keras untuk pembuktian diri! Pembuktian bahwa saya beserta team yang akan berangkat nggak hanya team ecek-ecek.. :P dan akirnya pffuihh.. hari yang ditunggu datang juga. Walaupun detik-detik terakir diisi dengan printing rush materi data yang akan dipresentasikan.
The day has arrived

Perjalanan yang ditempuh tidak terlalu panjang, dibanding perjalanan ke Vancouver 3 tahun yang lalu yang sukses menjadikan pantat tepos! Cengkareng-Pudong hanya ditempuh kurang lebih dalam waktu 7 jam termasuk waktu transit di Changi.
Kesan pertama dari tujuan saya kali ini? Tidak terlalu fantastis! Dimulai dari bandara yang walaupun sudah menggunakan langgam arsitektur hi-tech tapi tetap tidak mampu menutupi ketidak eksklusifan bandara ini.Paling tidak jauh lah dibanding bandara Internasional Hong Kong. Dan saya masih memilih Changi sebagai bandara ternyaman.
Dilanjutkan dengan antrian panjang di imigrasi dan pengaturan lajur yang nggak bener. Bayangkan jelas-jelas tertulis China Nation Only tapi banyak banget wajah wajah bule berambut pirang (yang asumsi saya bukan berkebangsaan Cina tentunya) turut mengantri di jalur itu. Dan petugas imigrasi di dalam counter pun cuek bebek dengan keadaan ini. Well, biarlah. Walaupun risih tapi buat saya yang penting semakin banyak counter dibuka berarti semakin cepat saya keluar dari bandara ini. Ternyata harapan saya tidak terkabul karena antrian pun semakin panjang dan membutuhkan waktu 1 jam untuk melewati proses pen-stempelan paspor ini.
Berarti telattttttttttttttttt.. karena seharusnya saat itu kami sudah dijemput untuk mulai kegiatan.

Well, sampai di hotel saya menjalani ritual mandi tercepat dalam hidup saya.. hehehe..
The Show Must Go On


Menggunakan taksi, kamipun menyusuri kota. Dimulailah fase Lost in Translation saya! Kesibukan pra keberangkatan benar-benar membuat saya kehabisan waktu untuk membuka Lonely Planet. Kamus hidup saya ketika berancana untuk keluar negeri. Benar-benar di luar kebiasaan saya! Dan itu mengganggu!! Sebel!!


Berada di suatu kota dimana saya tidak mempunyai satupun informasi mengenainya ternyata cukup mengganggu. Peta mental saya tidak berfungsi. Bahkan saya belum mengetahui letak hotel saya pada peta mental saya. But the show must go on! Berbekal peta standar dari seorang rekan kerja serta SMS dari beberapa teman yang pernah mengunjungi Shanghai perjalanan menyusuri Shanghai pun dimulai.
Lost in Translation

Selamat datang di China! Dunia baru yang baru berkembang namun tetap terjebak dalam lokalitasnya. Segelintir rangkaian alphabet latin diantara ratusan alphabet lokal cukup membuat shock. Tapi itulah keunikan suatu tempat. Dan itu yang membuat saya tertarik sekaligus tetantang.






Bersama Steve, seorang rekan kerja yang juga doyan membuka visi melihat dunia, kamipun menyusuri jalan dalam artian yang sebenarnya: jalan kaki.
Karena buat kami dengan berjalan kakilah kita dapat melihat segala hal-hal unik dan fantastic yang terkadang sangat kecil dan detail yang terlewat apabila kita berleha-leha didalam kendaraan beroda.
Dan voila! Berikut beberapa keunikan Shanghai:
Lokalitas yang cukup tinggi, Bahasa Inggris yang belepotan, western influence dalam arsitektur lokal, eden ditengah metropolis, kekeringan makhluk lutju :P, keunikan dari investasi, perjalanan menuju mega metropolitan, dan sebagainya..









Dan sayapun mejadi bagian dari kota ini. Dalam sesuatu yang dibilang KENARSISAN.
Bisa dibilang saya cukup sukses menggabungkan pekerjaan dan kesenangan duniawi.. hehehe..


Business Trip vs Leisure vs Narsisme



TAPI.. ternyata saya terlalu terbuai untuk berlebihan menggabungkan Business trip dengan Leisure dan Narsisme. Hal itu menjebak! At least itu pelajaran terakhir yang saya petik dari hari terakhir di Shanghai. Well, karena ada juga saat-saat susah cukup membuat saya kapok..
Ada sedikit resolusi dari perjalanan terakhir saya ini: Saya harus bisa mengurangi kadar kenarsisan saya! Tapi.. bisa nggak ya? Karena jujur saya nggak yakin bisa. :)
